Kliksaya
Supported by
Barusaja terasa ada gempa yg juga terasa di Kuala Lumpur.
Pusat gempa dengan kekuatan Magnitude M7.6 ini berada di Simeulue. Gempa terjadi pada hari ini February 20, 2008 at pukul 03:08:32 petang. Pusat gempa (epicenter) diperkirakan ada dibawah Pulau Simeulue. Tepatnya pada koordinat 2.751N, 95.966E dengan kedalaman pusat gempa 34 km.
Hasil koreksi terbaru menyatakan M7.5.
Lokasi ini kira-kira :
- 312 km (194 miles) WSW (253 degrees) dari Medan, Sumatra, Indonesia
- 314 km (195 miles) SSE (167 degrees) dari Banda Aceh, Sumatra, Indonesia
- 336 km (209 miles) WNW (290 degrees) dari Sibolga, Sumatra, Indonesia
- 638 km (397 miles) W (266 degrees) dari KUALA LUMPUR, Malaysia
Getaran kuat pasti sangat dirasakan di Pulau Simeulue. Peta dibawah menunjukkan peta kekuatan getaran hasil perhitungan komputer USGS. Getaran sebesar Skala VII ini mirip dengan getaran atau goyangan gempa di Jogja.
USGS saat ini mulai memberikan perkiraan jumlah orang yang terpengaruh oleh gempa ini berdasarkan kekuatan yang dialaminya.
Sumber : www.rovicky.wordpress.com
Label: Berita Geologi
KETERANGAN PERS
IKATAN AHLI GEOLOGI INDONESIA [IAGI]
TENTANG GEMPA BENGKULU DAN UPAYA MITIGASI BENCANA GEMPA
Menyikapi rangkaian gempabumi yang bersumber dari perairan baratdaya Bengkulu pada tgl. 12 September 2007 pukul 18:10 dengan magnitude 7.9 Skala Richter [SR] hingga saat ini, Ikatan Ahli Geologi Indonesia [IAGI] mengadakan diskusi ilmiah dengan narasumber para ahli yang aktif melakukan penelitian gempabumi di Indonesi pada tgl. 15 September 2007. Dalam diskusi ini para ahli memaparkan fakta lapangan, data yang tercatat oleh instrumen pemantau, dan analisis terhadap data dan hasil-hasil penelitian sebelumnya.
Dalam diskusi terungkap bahwa secara umum kerusakan yang terjadi di wilayah Bengkulu tidak separah kerusakan akibat gempa tahun 2000, tidak dijumpai kawasan yang rusak akibat tsunami, dan masyarakat sudah cukup memahami fenomena yang terjadi. Kesiapsiagaan masyarakat telah cukup baik, sebagaimana dilaporkan oleh IAGI Padang.
Dari sisi peringatan terhadap bahaya, otoritas Indonesia sudah berhasil mendeteksi dan menghitung parameter gempa secara cepat. BMG berhasil mengeluarkan informasi dan peringatan terhadap potensi tsunami dalam waktu 5 menit setelah kejadian gempa. Peringatan ini jauh lebih cepat daripada informasi dari sumber-sumber di luar negeri yang memerlukan waktu 20 menit.
Diskusi tentang potensi gempa mengungkap fakta bahwa perairan barat Sumatera masih menyimpan potensi gempa besar yang harus dicermati. Sementara itu para ahli masih menghadapi kendala akibat keterbatasan data kegempaan, data patahan aktif, serta data geologi baik permukaan mau pun bawah permukaan.
Kesimpulan dari diskusi ini adalah sbb.:
1. Kawasan pusat gempa yang harus dicermati adalah perairan barat Lampung, perairan Enggano, perairan Siberut, dan perairan Simeulue. Berdasarkan runtutan peristiwa gempa Bengkulu, peluang kejadian yang paling dekat adalah kawasan Siberut. Waktu kejadiannya belum dapat ditentukan secara tepat, namun belajar dari runtutan persitiwa gempa Aceh dan Nias pada tahun 2004 – 2005, kemungkinan gempa di kawasan Siberut dapat terjadi dalam hitungan beberapa bulan hingga beberapa tahun ke depan. Fenomena ini tergambar dari runtutan gempa Bengkulu dan gempa Sungaipenuh [Jambi] 12 – 13 September 2007.
2. Untuk meningkatkan kemampuan deteksi dan peringatan dini, IAGI merekomendasikan untuk menambah jaringan instrumen pemantau, seperti seismometer dan GPS; serta melakukan survei dan pemetaan terhadap patahan aktif dan zona retakan.
3. Upaya yang dapat dilakukan oleh Pemerintah dan masyarakat adalah membuat tataruang dan panduan kesesuaian struktur bangunan untuk daerah-daerah yang rawan bencana. Pengawasan terhadap tataruang dan struktur bangunan hendaknya diperketat.
4. Daerah-daerah lain di Indonesia yang akhir-akhir ini diguncang gempa perlu juga mendapat perhatian serupa.
Informasi ini disampaikan agar menjadi perhatian Pemerintah dan masyarakat, tanpa maksud untuk menimbulkan rasa takut. Jika ada hal-hal yang perlu klarifikasi, harap menghubungi Sekretariat IAGI melalui telpon 021-83702848, 83702577; email: iagisek@cbn.net.id.
Label: Berita Geologi
"Jadi, Gunung Kelud itu sebenarnya sudah meletus, tapi erupsinya (letusannya) bersifat effusif," kata Kasubid Pengawasan Gunung Api PVMBG, Agus Budianto, di Balai Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kediri, Selasa sore.
Menurut dia, kubah lava yang menghambat atau menahan aktivitas magmatik dari dalam tubuh gunung api setinggi 1.731 mdpl itu mengandung api vulkanik, aliran lava piroklastik yang menghambat aktivitas di dalam tubuh gunung.
"Soal kapan akan terjadinya letusan eksplosif, kita lihat saja nanti, karena sampai saat ini aktivitas Gunung Kelud masih tetap tinggi, termasuk dengan masih terjadinya gempa tremor yang terus menerus," katanya.
Ia menjelaskan, kalau erupsi bersifat eksplosif maka letusannya mengandung abu dan awan panas, sementara kalau letusan "effusif" sifatnya tertahan.
Kubah lava yang muncul menyerupai pulau sejak Sabtu (3/11 ) saat ini semakin membesar, bahkan tingginya diperkirakan mencapai 70 meter atau lebih dari separoh kedalaman danau kawah dengan diameter lebih dari 100 meter.
Sedangkan besaran kubah lava sampai saat ini diperkirakan sudah mencapai sepertiga dari diameter danau kawah seluas 200 meter.
Akibat munculnya sumbat lava berbentuk kubah itu, maka volume air danau kawah yang tadinya mencapai 2,5 juta meter kubik akan berkurang. "Bahkan, air danau kawah keluar melalui terowongan (outlet) yang mengalir ke Kali Badak," katanya menjelaskan.
Oleh sebab itu, air yang mengalir ke Kali Badak yang tadinya diduga sebagai lahar dingin adalah luapan air danau kawah setelah munculnya kubah lava.
Sementara itu, hembusan kubah lava sampai saat ini sudah mencapai 1.000 meter yang tertiup angin ke arah utara atau mengarah ke Ploso Klaten, Puncu, Kepung (Kabupaten Kediri) dan sebagian wilayah Ngantang (Kabupaten Malang) mengandung emisi gas yang berbahaya bagi manusia. (*)
Label: Berita Geologi
